Sunday, July 15, 2012

Makanan Khas Korea Session 2



1. Miyeokguk (미역국) 
Sebuah buku 『Chohakgi』yang ditulis pada dinasti Tang, Cina memberikan catatan bahwa orang Goryeo mendorong kaum ibu yang baru melahirkan untuk mengkonsumsi miyeok sejenis rumput laut setelah menyaksikan ikan paus memakan rumput laut untuk menyembuhkan luka terdapat waktu melahirkan anaknya. Pada buku bernama "Bonchogangmok" kita dapat menemukan satu catatan bahwa warga penduduk Goryeo suka menyantap miyeok yang disebut sebagai 'Goryeo Haetae'. Miyeok merupakan makanan bagi ibu yang baru melahirkan guna memulihkan kondisi badannya karena berefek untuk pembersih. Menurut tradisi Korea masyarakat Korea pada zaman dahulu mempersembahkan miyeokguk atau sup rumput laut ini kepada 'Samsinhalmeoni' atau roh yang mengontrol kelahiran. Mereka menempatkan sup miyeok di atas bantal ibu hamil sejak seminggu sebelum melahirkan dengan mengharapkan proses kelahiran ibu hamil itu berlangsung lancar. Dengan demikian miyeokguk adalah makanan Korea yang penting karena mengandung makna kelahiran. 

2. Tteokguk (떡국)


Tteokguk dapat ditulis dengan istilah Cina sebagai Byeongtang yang terdiri atas Byeong yang bermakna, kue basah dan Tang yang bermakna sup. Tradisi menyantap Byeontang pada Tahun Baru Imlek ini berasal dari dinasti Tang, Cina. Masyarakat Cina menyantap Byeongtang dari gandum sedangkan masyarakat Korea menyantap Tteokguk dari Garaetteok yang dibuat dari beras karena gandum tidak dihasilkan di tanah Korea. Terutama di daerah Gaeseong disantap Joraengi Tteokguk yang berbentuk kecil-kecil sedangkan di Seoul disantap Tteokguk yang berbentuk irisan bulat. 

3. Jeyuk-bossam (제육보쌈)


Istilah Jeyuk dari kata Jeoyuk yang bermakna, daging babi dan Jeyuk-bossam adalah masakan yang disantap dengan cara membungkus daging babi dengan daun sayur bersama dengan saus. Masakan ini merupakan masakan khas Korea yang memiliki rasa harmonis dari daging babi rebus yang tidak berlemak dan Kimchi segar. Masakan ini sangat digemari masyarakat Korea sampai setiap rumah tangga menyiapkan Jeyuk-bossam pada setiap saat Kimjang yaitu waktu membuat banyak Kimchi menjelang musim dingin. 

4. Sujeonggwa (수정과)


Sujeonggwa merupakan minuman dari kesemek kering dengan kuah. Tetapi, ini lebih sesuai disebut sebagai Jeonggwa daripada minuman. Sujeongga yang merupakan hidangan untuk tamu ini dibuat dengan cara Gotgam atau kesemek kering dimasukkan ke dalam kuah yang dimasak dari jahe dan kayu manis. Kesemek banyak dihasilkan pada musim gugur di daerah selatan Semenanjung Korea dan sering dipakai sebagai sesajen dan hidangan jamuan makan. Oleh sebab itu, dikembangkan cara menyimpan kesemek untuk jangka waktu lama dan Sujeongga diciptakan sebagai salah satu cara untuk memakan kesemek kering itu. 

5. Yaksik (약식)


Pada dinasti Joseon, madu dianggap sebagai obat sehingga minuman keras yang mengandung madu disebut Yakju atau minuman keras obat, nasi yang ditanak bersama madu disebut Yakban atau nasi obat, dan kue yang dibuat dari madu disebut Yakgwa atau kue obat. Sebuah buku yang ditulis Hong Seok-mu pada tahun 1800 memuat sebuah cerita tentang masakan Yaksik ini. Sekitar pada tahun 488, seorang raja bernama Soji pada dinasti Silla menyelamatkan jiwanya berkat seekor burung gagak. Oleh sebab itu, hari bulan purnama pertama tahun lunar ditentukan sebagai hari Ogiil untuk memperingati jasa burung gagak dan Yaksik dipakai sebagai sesajen pada hari itu. 

6. Hwayangjeok (화양적)


Hwayangjeok disebut juga sebagai Hwayangnurmi dan merupakan masakan yang dibuat dari berbagai jenis bahan, baik sayur dan daging dengan cara menumis dan dihidangkan dalam bentuk tusukan. Begitu indah penampilan masakan yang berwarna-warni dari berbagai jenis bahan itu seperti bunga sehingga masakan ini sering dihidangkan pada jamuan makan di kerajaan di Korea. Hwayangjeok ini pernah disebut juga dalam catatan tentang pesta ulang tahun ke-60 ibu raja Jeongjo.

7. Yukgaejang (육개장)


Istilah Yuk Gaejang berarti sup gaejang yang memakai daging sapi dengan menggantikan daging anjing. Pada masa kuno saat harga daging sapi mahal masyarakat Korea menyantap sup daging anjing untuk menambah energi. Masakan ini cukup terkenal sampai cara memasaknya disebut pada sebuah buku bernama tapi ada juga perselisihan di kalangan bangsawan dinasti Joseon tentang penyantapan daging anjing. Berdasarkan sebuah buku yang ditulis oleh Choi Nam-seon Yukgaejang itu diperkirakan dibuat oleh orang yang segan makan daging anjing itu. Di Korea Utara masakan ini disebut dengan nama 'Sodangogiguk' dan sangat digemari. 

8. Baekseolgi (백설기)


Makanan tteok dianggap sangat berharga dan mewah pada saat beras adalah makanan berharga sehingga tteok dihidangkan pada hari istimewa dan disajikan sebagai sesajen. Di antara tteok Baekseolgi bermakna, tteok seperti salju karena ditulis dengan huruf Cina, Baek bermakna, putih, Seol bermakna, salju, dan Gi yang bermakna tteok. Berkaitan dengan kue tradisional ini, ada kebiasaan yang membagi-bagikan Baekseolgi kepada seratus orang pada hari ke-100 setelah anak dilahirkan dengan harapan anaknya selalu sehat dan berumur panjang. 

9. Jeonbokjjim (전복찜)



Jeonbok atau kerang mata tujuh merupakan salah satu bahan makanan yang penting di kawasan Asia Timur. Di Korea juga kerang mata tujuh merupakan makanan mewah yang jarang sekali disantap oleh rakyat biasa. Kerang mata tujuh ditangkap di laut Barat dan Selatan serta Pulau Jeju, lalu dikeringkan dan dipersembahkan kepada raja pada masa kerajaan. Masakan dari kerang mata tujuh kering selalu dihidangkan pada jamuan penting, terutama pada pesta Girohoe yang dipersembahkan oleh raja setiap bulan Oktober untuk mengharapkan panjang umur bagi lansia. Cara umum untuk menyimpan ikan dengan lama adalah mengukus sehingga ada banyak jenis maskan ikan yang dikukus termasuk Jeonbokjjim.

10. Seolleungtang (설렁탕)


Ada beberapa tanggapan tentang asal usul masakan 'Seolleungtang' yang merupakan sup dari daging, organ dalam dan tulang sapi. Ada yang mengatakan Seolleungtang dipengaruhi masakan sup Mongolia pada zaman dinasti Koryeo. Ada juga yang mengatakan bahwa Seolleungtang mulai dinikmati pada awal zaman dinasti Joseon. Pada zaman itu, kerajaan harus menandai masyarakat dalam memulai pertanian pada tahun itu di daerah Sennongdan yang berlokasi di luar Dongdaemun sekarang. Raja Seajong setiap tahun menyediakan Seolleungtang untuk menyemangati masyarakat yang mengahdiri acara tersebut. Menurutnya, nama masakan sup ini dari nama tempat, Seonnongdan itu. Seollengtang merupakan masakan sup yang sering disantap oleh warga penduduk Seoul pada tahun 1910-an sehingga masakan ini disebut juga sebagai 'Seoul Seolleungtang'.

11. Bossam-kimchi (보쌈김치)


Bossam-kimchi merupakan makanan khas daerah Gaeseong dan disebut juga sebagai Bo-kimchi karena dimasak dengan membungkus bahan-bahan dengan daun sawi putih. Sawi putih yang dihasilkan biasanya lebih panjang dan lebar daunnya daripada sawi putih yang dihasilkan di daerah lain sehingga cocok untuk Bossam-kimchi. Bosaam-kimchi yang terdiri dari berbagai jenis bahan dan bumbu ini memiliki rasa lezat dan kaya dengan gizi. Oleh sebab itu, masakan sayur ini merupakan makanan mewah yang dihidangkan pada jamuan makan istimewa. 

12. Baechu Kimchi (배추김치)


Kimchi, salah satu makanan kesukaan masyarakat Korea adalah makanan fermentasi yang disimpan lama. Oleh sebab itu, menjelang musim dingin masyarakat Korea tidak lupa membuat Kimchi yang akan dikonsumsi selama musim dingin. Kimchi pada awalnya disebut sebagai Dimchae dan ditulis Chimchae dalam huruf Cina. Kimchi dapat digolongkan 3 jenis, yaitu Chimchae yang berkuah, Jjanji yang diasinkan dengan garam, dan Jangajji yang diasinkan dengan taujo. Cara membuat Kimchi dari sawi putih dan lobak terdapat dalam sebuah buku kuno bernama Dongguksesigi yang diterbitkan pada abad ke-18. Terutama Kimchi sekarang yang dibumbui mulai dimasak pada pertengahan abad ke-18. Kimchi sawi putih yang dibuat dari sawi putih yang digarami dengan berbagai bumbu termasuk bubuk cabe merah dan terasi dapat memiliki rasa segar dan mewakili semua jenis Kimchi. 

13. Jangjorim (장조림)



Jangjorim sebagai masakan daging yang dicampur dengan kecap asin merupakan salah satu cara memasak untuk menyimpan masakan dalam jangka waktu lama. Cara memasak ini sudah lama dipakai dan dicatat juga dalam buku kuno yang diterbitkan 3000 tahun yang lalu. Sejak kerajaan Joseon saat dilarang menyembelih sapi tanpa izin pemerintah, Jangjorim daging sapi sudah merupakan masakan mewah. Namun, pada tahun 1960-an dan 1970-an pun masakan Jangjorim tetap dianggap sebagai lauk yang berharga.

14. Kkakdugi (깍두기)



Nama Kkakdugi berasal dari bentuk potongan lobak berupa dadu. Walau zaman sekarang Kkakdugi tergolong makanan sederhana, namun masakan lobak ini merupakan makanan mewah yang disantap di istana pada zaman kerajaan Joseon. Dibandingkan dengan sawi putih, lobak dapat lebih lama disimpan sehingga di zaman dinasti Joseon berkembang banyak jenis Kimchi lobak seperti Dongchimi, Kimchi lobak berkuah, Chonggak Kimchi dari lobak kecil berdaun.

15. Tarakjuk (타락죽)


Istilah 'Tarak' berarti susu dan diperkirakan berasal dari bahasa Mongolia yang bermakna susu dari kuda. Di Korea sejak abad ke-4, kaum bangsawan meminum susu ini. Pada zaman kerajaan Joseon susu ini dianggap makanan berharga sehingga Tarakjuk yang dibuat dari susu merupakan makanan stamina yang termewah untuk raja pada waktu itu. Terutama raja Yeongjo yang paling panjang umurnya pada kerajaan Joseon diketahui suka menyantapnya. Tarakjuk dibuat dari susu dan tepung beras ini sering dihidangkan kepada raja-raja mulai awal musim gugur hingga selama musim dingin. 

16. Insam-jeonggwa (인삼정과)



Jeonggwa adalah makanan cuci mulut dari buah dan akar tumbuhan berkhasiat yang dimasak bersama dengan madu dalam waktu lama. Pada zaman dinasti Joseon makanan Jeongwa ini sangat berkembang. Waktu itu gula adalah barang yang berharga sehingga madu sering dipakai untuk pembuatan Jeonggwa. Terutama Insam-jeonggwa ini merupakan makanan sehat dari ginseng yang dibuat untuk disimpan lama. Makanan ini dipakai juga untuk hidangan tamu. 

17. Nakji-bokkeum (낙지볶음)


Hingga zaman dinasti Joseon, gurita kecil dikukus, disupkan dan dikeringkan. Di daerah laut Barat, terutama Jeolla dan Chungcheong, gurita kering merupakan sesajen penting. Nakji-bokkeum adalah masakan gurita yang sangat pedas. Ini diperkenalkan oleh seorang pemilik restoran pada menjelang tahun 1961 dan menjadi makanan populer sehingga banyak restoran di bilangan Mugyodong, Seoul menjualnya. Daerah sekitar ini akhirnya terkenal sebagai jalan penjualan Nakji-bokkeum.

18. Jeonbokjuk (전복죽)


Jeonbok atau kerang mata tujuh merupakan salah satu bahan makanan yang termewah dan Jeonbokjuk adalah makanan kesukaan raja pada zaman dahulu. Kerang ini biasanya dipersembahkan kepada raja dari daerah pantai Selatan dan Pulau Jeju. Kerang mata tujuh ini memiliki protein tinggi, lemak rendah, dan kalori rendah. Salah satu unsur zat bernama Taurine berkhasiat untuk memperbaiki penglihatan, mencegah diabet, menahan peningkatan kadar kolesterol, dan meningkatkan fungsi jantung. Terutama karena Taurine ini memperbanyak dalam proses pengukusan dan pengeringan, Jeonbokjuk dapat menjadi makanan sehat untuk pasien yang sedang sembuh dari penyakit, ibu hamil, dan anak-anak yang lemah.

19. Eomandu (어만두)


Eomandu adalah masakan pangsit yang memakai daging ikan untuk kulitnya. Masakan ini merupakan juga salah satu masakan istana yang penting sejak awal zaman dinasti Joseon. Terutama Eomandu memiliki makna khusus, yaitu masakan pangsit dari Cina disesuaikan dengan dinasti Joseon dengan memakai daging ikan sebagai kulit pangsitnya.

20. Ssambap (쌈밥)

Ssambap adalah masakan yang disantap dengan membungkus nasi dengan sayur berdaun. Ssambap ini mempunyai sejarah panjang, karena kita dapat melacak catatan tetang Ssambap dalam buku-buku kuno Cina. Menurutnya dayang-dayang dari kerajaan kuno Korea, Koryeo memakan Koryeossam yaitu makanan nasi yang dibungkus dengan sayur. Ssambap dari nasi dan berbabagi sayur serta saus ini merupakan masakan yang dapat dimakan dalam satu suapan. 

21. Songpyeon (송편)


Songpyeon memiliki arti, kue beraroma daun cemara dan merupakan makanan khas untuk hari raya Chuseok pada tgl. 15 Agustus menurut kalender lunar. Sejak zaman dahulu, masyarakat Korea khusunya para petani mempercayai bulan dan berdoa kepada sang bulan itu. Lalu, mereka membuat kue berbentuk bulan separuh dari beras yang baru dipanen pada saat itu. Buku 'Donggukseasigi' yang berisi adat istiadat masyarakat Korea pada abad ke-18 mencatat bahwa masyarakat Korea senang membuat Songpyeon pada musim gugur dan kue itu dipersembahkan buat sesajen. 


source : world.kbs.co.kr/indonesian/

No comments:

Post a Comment